Berita  

PC ISNU Pontianak Angkat Isu Kesejahteraan Psikologis Guru Madrasah

Ketika Kualitas Madrasah Dimulai dari Kesejahteraan Gurunya

PONTIANAK – Upaya meningkatkan kualitas pendidikan madrasah tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas atau kurikulum. Kondisi guru sebagai aktor utama pembelajaran juga menjadi bagian penting yang perlu mendapat perhatian.

Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam Workshop Pendidikan bagi Guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) se-Kota Pontianak yang berlangsung di Aula MAN 2 Pontianak, Rabu (16/9/2026). Sebanyak 40 guru MTs dari berbagai madrasah di Kota Pontianak mengikuti kegiatan yang secara khusus membahas kesejahteraan psikologis guru dan lingkungan kerja yang sehat.

Kegiatan ini digagas melalui kolaborasi Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kota Pontianak, Kementerian Agama Kota Pontianak, dan BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat.

Namun, isu yang dibawa dalam workshop tidak berhenti pada bagaimana guru mengelola tekanan pekerjaan secara personal. Pembahasan justru diarahkan pada pertanyaan yang lebih luas: seperti apa lingkungan madrasah yang mampu membuat guru tetap sehat secara psikologis, produktif, dan memiliki ruang untuk berkembang?

Sejak pagi, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang diawali pembukaan oleh MC Rita Siswati, ME, pembacaan doa oleh Ustadz Abdurrahman, M.Pd., laporan Ketua Panitia Surya Widyanata, serta sambutan Ketua PC ISNU Kota Pontianak, Dewi Puryanti, ME.

Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak yang diwakili Kasi Penmad, Aris Sujarwono, MH.

Selain agenda utama workshop, kegiatan juga diisi dengan penyerahan simbolis bantuan alat kesehatan dari PC ISNU Kota Pontianak kepada Kepala MAN 2 Pontianak, Hj. Yuliana, M.Pd. Bantuan tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap lingkungan pendidikan yang menjadi bagian dari rangkaian kolaborasi.

Guru dan Persoalan Kesejahteraan Psikologis

Sesi pertama workshop mengangkat tema “Strategi Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis Guru”. Materi disampaikan oleh Dr. Hj. Fitri Sukmawati, Psikolog, dengan moderator Rianda Hnais, ME.

Pembahasan menempatkan guru sebagai manusia yang berhadapan dengan berbagai tuntutan dalam menjalankan profesinya. Selain mengajar, guru juga berhadapan dengan administrasi, karakter peserta didik yang beragam, tuntutan profesional, serta dinamika hubungan di lingkungan kerja.

Dalam konteks tersebut, kesejahteraan psikologis menjadi isu yang memiliki kaitan dengan keberlangsungan proses pembelajaran. Guru membutuhkan kondisi psikologis yang relatif sehat agar dapat menjalankan fungsi pendidikan, membangun relasi positif dengan peserta didik, dan merespons berbagai persoalan di sekolah maupun madrasah secara konstruktif.

Pembahasan kemudian bergerak dari aspek individu menuju lingkungan organisasi.

Prof. Dr. Arif Sukino, M.Ag., dalam materi bertajuk “Ekosistem Madrasah yang Sehat: Strategi Kepemimpinan dan Budaya Kerja untuk Mendukung Kesejahteraan Psikologi Guru”, mengajak peserta melihat persoalan kesejahteraan guru sebagai bagian dari ekosistem madrasah.

Materi tersebut dimoderatori oleh Bahrul Ulum, M.Pd.

Perspektif ini menegaskan bahwa kondisi psikologis guru tidak berdiri sendiri. Kepemimpinan madrasah, komunikasi antarwarga madrasah, budaya kerja, serta pola hubungan di lingkungan organisasi dapat menjadi faktor yang ikut membentuk pengalaman kerja seorang guru.

Karena itu, membangun madrasah yang sehat tidak cukup dengan meminta guru mampu mengelola tekanan secara individual. Dukungan kelembagaan dan budaya kerja yang sehat juga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang berkelanjutan.

Kolaborasi untuk Menyentuh Kebutuhan Nyata

Kehadiran PC ISNU Kota Pontianak, Kementerian Agama Kota Pontianak, dan BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat dalam kegiatan tersebut memperlihatkan adanya ruang kolaborasi lintas lembaga dalam mendukung pendidikan.

Kementerian Agama memiliki posisi strategis dalam pembinaan pendidikan madrasah, organisasi kemasyarakatan dapat menghadirkan kontribusi berbasis kepedulian dan pengabdian, sementara lembaga zakat memiliki potensi filantropi yang dapat diarahkan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat.

Pertemuan berbagai unsur tersebut membuka peluang agar program pendidikan tidak hanya berorientasi pada kegiatan seremonial, tetapi dapat diarahkan pada kebutuhan konkret para pendidik dan lembaga pendidikan.

Workshop kemudian ditutup dengan foto bersama, makan siang, dan acara sayonara.

Meski berlangsung sehari, isu yang dibicarakan memiliki cakupan yang lebih panjang. Kualitas pendidikan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh peserta didik, kurikulum, maupun fasilitas pembelajaran. Ada guru yang setiap hari menjadi bagian terdepan dari proses tersebut.

Karena itu, perhatian terhadap guru bukan sekadar persoalan kesejahteraan individu. Ia juga berkaitan dengan bagaimana madrasah membangun lingkungan kerja yang sehat dan bagaimana berbagai pihak dapat berkolaborasi memperkuat ekosistem pendidikan.

Dari ruang kelas, kualitas pendidikan memang terlihat. Tetapi di balik ruang kelas itu, ada guru yang juga membutuhkan dukungan untuk tetap tumbuh, sehat, dan mampu menjalankan perannya secara optimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *